Secara jelas, tujuan Universitas Islam Indonesia (UII) sebagaimana tercantum dalam Statuta UII adalah (a) membentuk cendekiawan muslim dan pemimpin bangsa yang berkualitas, bermanfaat bagi masyarakat, menguasai ilmu keislaman dan mampu menerapkan nilai-nilai Islami serta berdaya saing tinggi; dan (b) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sastra, dan seni yang berjiwa Islam; (c) turut serta membangun masyarakat dan negara Republik Indonesia yang adil dan makmur serta mendapat ridla Allah SWT; dan (d) mendalami, mengembangkan, dan menyebarluaskan pemahaman ajaran agama Islam untuk dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh warga Universitas dan masyarakat.

Salah satu substansi tujuan tersebut adalah adanya integrasi antara Islam ke dalam semua proses pendidikan di UII. Substansi tujuan tersebut tidak berubah dari yang dicita-citakan oleh pendiri. Salah satu pendiri UII, Dr. Moh. Hatta,  pada Pembukaan Sekolah Tinggi Islam setelah dipindahkan ke Yogyakarta pada 10 April 1946, menyatakan:

“… ujud Sekolah Tinggi Islam ialah membentuk ulama’ yang berpengetahuan dalam berpendidikan luas serta mempunyai semangat dinamis. Hanya ulama’ yang seperti itulah yang bisa menjadi pendidikan yang sebenarnya dalam masyarakat. Di Sekolah Tinggi Islam itu akan bertemu agama dengan ilmu dalam suasana kerjasama yang membimbing masyarakat ke dalam kesejahteraan.”

Namun, dalam perkembangannya, Dr. Moh. Hatta sendiripun kecewa dengan perkembangan UII. Dalam Biografi Politik Moh. Hatta yang ditulis oleh Deliar Noor termuat

“Ia (Dr. Moh. Hatta) sayangkan sekali bahwa universitas ini berkembang berbeda dari yang ia cita-citakan. Cita-citanya agar universitas tersebut benar-benar mencerminkan sifat dan isi Islam, bukan sekadar menyandang nama Islam dengan isi yang merupakan duplikat dari universitas negeri.”

Banyak cendekiawan Muslim menyatakan bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam adalah karena sekularisasi, pemisahan antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Kebangkitan (tajdid) umat Islam harus dilakukan dengan mengubah pola pikir umat yang dilakukan melalui pendidikan. Karenanya, pendidikan yang diberikan di institusi Islam sudah seharusnya mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama.

Mulai 2015, BPA meluncurkan program hibah penulisan buku “Islam dalam Disiplin Ilmu” yang diikuti oleh program studi sarjana di lingkungan UII. Program hibah yang digulirkan oleh Badan Pengembangan Akademik (BPA) ini merupakan ikhtiar awal dari proses yang sangat panjang untuk kembali menguatkan jati diri UII, dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam ilmu pengetahuan. Dengan demikian, penulisan buku ini akan mempunyai andil dalam menghasilkan lulusan seperti yang menjadi cita-cita mulai para pendiri.

Tahun ini, sebanyak tujuh paket akan didistribusikan. Panduan penulisan proposal dapat dilihat di sini.